tentang pulang

salah satu kebodohanku adalah tidak pernah menyadari bahwa seseorang mencintaiku dengan begitu besar. aku terus fokus pada kehilangan dan kesedihan hingga nyaris melupakan karunia Tuhan. itulah yang kini kurasa ketika kembali terhubung dengannya--dengan sebentuk wajah ayu yang selalu kurindu, tentang suara yang selalu menenangkan saat aku menangis dan terjungkal, tentang sebongkah pelukan yang pernah menghangatkanku setiap malam ketika jauh dari mama. 

ya, aku lupa bahwa dia sangat mencintaiku dan menunggu kisah-kisahku. namun bagaimana aku bisa memulainya seperti dulu? aku bingung, sungguh tidak kutemukan jalan kembali padanya. yang kulihat kini adalah pintu yang masih tertutup rapat dan belum ingin terbuka setelah hari pernikahannya yang sangat tiba-tiba; begitu mengejutkan dan sedikit membuatku ketakutan. aku takut kehilangan dia dan aku takut dia salah menjatuhkan pilihan.

bagaimanapun, aku sudah terbiasa menjalani hari-hari dengannya. pada mama, sering kuceritakan tentang kebaikannya dan kebaikan keluarganya saat merawatku di Jakarta. semua orang pun tahu bahwa kami tidak bisa dipisahkan, tidak akan bisa. bahkan, teman-teman sekolahku serta Bu Reda sangat hafal siapa yang selalu menungguiku di depan pintu dengan sabar--dialah kakakku; Melanie Tan.

sudah empat bulan semenjak aku memutuskan pulang. meninggalkan Jakarta bukanlah perkara ringan. aku harus melupakan semua impian yang kubangun di atas kapal karam, aku juga harus merelakan kakakku menikah dengan lelaki yang SANGAT sulit kupercaya. dulu, aku pernah berkhayal untuk membangun rumah tangga di Jakarta saja, agar aku bisa tetap mendampingi kakakku sambil merawat suami tercinta. pun aku akan mendirikan bisnis berdua agar kami selalu terikat dalam jalinan. bersama, bahagia. dua hal yang selalu aku idam-idamkan sebelum banyak kejutan muncul diam-diam.

kejutan itu, entah aku harus bahagia atau sedih menceritakannya. semua tumpang tindih, silang sengkarut. kakakku berpamitan untuk menikah, aku menemukan sebentuk hati yang baru di tepi Tonle Sap, dan aku mendapati fakta bila lelaki yang kucintai selama ini telah membohongiku lahir batin. sungguh aku bingung menyebutnya, aku ini pulang ke Indonesia untuk mendapati kekecewaan atau malah menemukan kebahagiaan? selepas masa-masa pecarian untuk merilis luka di tiga negara, apakah yang kudapat selain rasa asing dan bimbang?

ya. semua terasa asing saat aku tidak mengenali kakakku sendiri. jarak yang begitu jauh, pintu yang tertutup dan tak mau terbuka, serta obrolan yang kaku dan 'ingin lekas berlalu'. pun lelaki Jakarta itu, tidak lagi kutemukan nyala api yang membakar habis tubuhku. termasuk, tidak kutemui hatiku yang penuh harap-harap rindu. rasa cinta itu masih ada, aku masih bisa meraba. tapi entah kuselipkan kemana? apakah telah aku telan hingga luruh bersama kotoran-kotoran di jamban?

sesungguhnya, kesedihan paling dalam adalah kesedihan yang tidak tahu dimana dia kusembunyikan. aku merasa sedih dan hampa namun tidak tahu apa yang jadi penyebabnya. di relung hatiku ada sepotong hati yang baru, mustahil hidupku tidak bahagia bersamanya. di penjuru otakku ada pekerjaan menumpuk dan itu adalah wajar. aku benar-benar merasa asing dan aneh sampai pada tafsiran bahwa aku kehilangan tempat berpulang. kakak. yang biasa mendengar keluh kesahku dan menyimak dongeng recehku. saat lelah menerpa, hanya obrolan ringan atau telepon tengah malam bersamanya yang jadi penawar.

terima kasih telah ikut denganku menikmati krolan legit di tepi danau Angkor Wat. aku mencintaimu, Kak.


kini, aku telah menemukan jalan kembali. dia atau aku adalah jalinan utuh yang akan kuat bila terus terjalin. melalui blog ini kami sepakat untuk saling berbagi dan berkirim kabar--sebab bagaimanapun hidup yang berjalan, kami adalah rumah bagi satu sama lainnya.

salah satu kebodohanku adalah tidak pernah menyadari bahwa seseorang mencintaiku dengan begitu besar. baiklah, aku sadar--aku tidak akan mengulanginya karena ego yang besar.

"pulanglah ke pelukanku, semua akan baik-baik saja..."

-

Rin - Puput Tyas

Komentar